Natal di Hatiku: Puisi Refleksi Natal
Masih seperti beberapa tahun yang lalu
Beranda rumahku masih nampak kosong dan sepi
Meski Natal datang tak lama lagi
Tak ada gemerlap lampu warna-warni untuk menyambut
para tetamu
Tak ada pohon natal atau tumpukan berbagai macam
bingkisan
Tak ada juga riuh gemerincing lonceng-lonceng mungil
Yang biasanya bercanda riang, berkejaran ditiup angin
Hanya ada pohon harapan yang masih berdiri kokoh
di sudut pelataran
Berhias kepingan kertas warna-warni yang kugantung
di ujung dahan dan ranting
Bertuliskan ribuan diksi yang kurangkai indah
menjadi beberapa bait doa dan puisi
Tentang harapan, impian dan kerinduan
Tentang kenangan, perjalanan dan pelajaran
Dari balik jendela kamar, aku melihat dengan samar
pohon harapan nampak rindang bertabur
sinar cahaya bintang
Samar-samar terlihat bayang kertas warni-warni
Berkelebat kesana kemari disapu hembus angin
di malam hari
Suara riuh ranting dedaunan dan kelebat kepingan
kertas warna warni
Memecah di keheningan malam
Bersahutan bergantian dengan nyanyian sang pungguk
yang sedang merindukan bulan
Ada suka cita yang tak terkira tiba-tiba mengalir deras
di antara derai air mata
Ada sukur yang tak terukur tiba-tiba datang menghibur
di antara rindu dan harapan yang nyaris terkubur
Hatiku hanyut terbawa suasana
malam yang semakin larut
Jiwaku tenggelam dalam temaram gelapnya malam
Tiba-tiba semua terasa bagai dalam mimpi
Natal tahun ini, aku masih melewatinya sendiri
Tanpa canda riang para tetamu,
yang biasanya datang silih berganti
Sungguh...Natal nan syahdu, Natal di hatiku
Hanya ada aku, dan diriku
Ada haru yang tiba-tiba menyelinap di dalam kalbu,
Ada suara berbisik lirih ditelingaku....
"Selamat Natal dan Tahun Baru...
jangan ragu terus ayunkan langkahmu anakKu...,
Imanuel... Aku menyertai mu".
25 Desember 2022, Yohana Gunarti
Bait puisi di atas aku tulis 3 tahun lalu. Bukan puisi yang meratap, bukan juga puisi untuk menangisi Natal yang sering ku lewati "sendiri" sejak orang-orang yang kukasihi tidak lagi ada di dunia ini_ketika Ibu dan Paksu sudah tak lagi ada di dunia ini, terlebih ketika anak-anak semakin beranjak dewasa dan punya dunianya sendiri, sementara Bapak serta sanak saudaraku berada jauh di kampung halaman.
Ya, Natalku beberapa tahun belakangan ini memang jadi tak seramai dulu_ketika waktu belum merubah segalanya.
Lalu, lahirlah puisi ini. Puisi yang aku tulis ketika aku sedang melakukan ritual kontemplasi_biasanya aku lakukan beberapa hari atau beberapa saat sebelum lonceng malam Natal berbunyi. Puisi ini sengaja aku tulis sebagai teman pada malam Natal_yang ketika aku membacanya lagi, aku merasa mendapatkan sebuah pelukan hangat dari orang-orang terdekat, yang kukasih dan kurindui ketika Natal tiba.
Aku yang cenderung introvert dibanding Ibu, Paksu dan keluargaku yang lain, sebenarnya lebih nyaman untuk menyambut natal dengan cara yang "sunyi". Namun, sering kali Almarhum Paksu yang lebih ekstrovert selalu punya rencana untuk berbagi sukacita dengan mengundang beberapa teman dan sanak saudara untuk datang merayakan Natal bersama di rumah kami, begitu juga dengan Almarhumah Ibu yang selalu mengingatkan untuk jangan egois dan membiarkan anak-anak merasa sunyi di saat Natal tiba ketika aku mengeluh mager atau overthinking dengan jadwal perayaan Natal yang ramai dan padat, ditambah lagi antusiasme anak-anak yang kala itu masih bocah ketika sudah ngobrolin soal Natal, rengek' an mereka untuk datang ke gereja atau ke pesta-pesta perayaan Natal agar bisa bertemu "sinterklaas" sering kali "memaksaku" untuk menantang jiwa introvertku yang cenderung mageran dan kurang menyukai keramaian, untuk akhirnya harus "sibuk" dan membaur dalam keramaian dan kemeriahan Natal.
Namun, akhirnya waktu pun merubah segalanya, kehilangan demi kehilangan membuatku akhirnya harus "sendiri lagi" melewati Natal ini. Dan ketika aku mengingat kembali Ibu, Paksu, dan masa-masa ketika Natal terasa begitu riuh, aku tidak lagi sedih atau meratap karena harus merayakan Natal dengan cara yang tak lagi sama. Keramaian itu pernah indah, dan sunyi ini pun punya keindahannya sendiri. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami sebagai fase-fase kehidupan yang silih berganti. Ada masa ketika cinta diwujudkan dalam bentuk meja panjang, hidangan istimewa dan tawa yang bersahutan, dan ada masa ketika sukacita hanya hadir dalam diam yang penuh penerimaan.
Meskipun begitu, aku mulai memahami bahwa Natal yang sunyi tidak sama artinya dengan kehilangan atau kesepian. Ada sunyi yang justru memberi ruang untuk mendengar lebih jelas—bukan suara manusia, melainkan bisikan-bisikan kecil yang sering tenggelam dalam hiruk-pikuk perayaan. Di saat-saat itulah Natal bagiku menjelma menjadi peristiwa batin, bukan sekadar perayaan kalender. Tidak ada kewajiban untuk tampak ramai, tidak ada tuntutan untuk selalu terlihat bahagia. Cukup ada kesadaran bahwa aku masih di sini, bernapas, mengingat, dan bersyukur—meski dengan cara yang sederhana dan sangat personal.
Di tengah sunyi itulah aku justru merasa paling dekat dengan makna Natal yang sesungguhnya. Tanpa harus sibuk memikirkan dekorasi berlebihan, tanpa agenda yang padat, aku belajar bahwa kehadiran tidak selalu harus dirayakan dengan keramaian. Kadang, cukup dengan hadir dalam bentuk keheningan yang menenangkan, dalam doa-doa yang tak diucapkan lantang, dalam rasa ditemani meski secara kasat mata aku sendirian. Sunyi ini bukan kekosongan_justru ini adalah ruang perjumpaan.
Maka malam-malam Natal yang kujalani kini sering diisi dengan hal-hal kecil: secangkir kopi yang menghangat, obrolan ringan tentang Natal bersama anak-anak yang kini telah beranjak dewasa, jendela yang kubiarkan terbuka separuh meski malam telah larut, seolah memanggil angin bersama kenangan dan air mata akhirnya ikut serta dalam obrolan ringan kami, meski seringkali tidak di undang. Tidak ada yang perlu ditolak, tidak ada yang perlu dilawan. Semua kuterima sebagai bagian dari perjalanan
Natal akhirnya tidak lagi kutakar dari seberapa ramai rumahku, melainkan dari seberapa lapang hatiku. Apakah aku masih mampu bersyukur, meski dengan cara yang sunyi. Apakah aku masih berani berharap, meski dari Natal ke Natal impian dan doa ku masih belum terjawab? Di sanalah aku menemukan bahwa iman tidak selalu hadir dalam sorak-sorai, tetapi seringkali tumbuh justru di ruang-ruang yang redup dan sederhana_seperti pohon harapan itu, seperti kertas-kertas doa yang bergoyang ditiup angin. Tidak semuanya harus dijawab hari ini, tidak semuanya harus dimengerti sekarang. Beberapa hal cukup diserahkan, cukup dipercayakan, cukup diyakini bahwa ada penyertaan yang bekerja jauh melampaui yang bisa kulihat.
Maka jika Natal tahun ini kembali kujalani dalam keheningan, tidak mengapa, aku tidak lagi merasa sendiri. Ada jejak langkah yang menemaniku, ada suara yang menguatkan tanpa perlu terdengar keras seperti suara khotbah di gereja pada malam Ibadah Natal. Hanya seperti bisikan lembut yang pernah singgah di hatiku: jangan ragu untuk terus melangkah. Sunyi ini bukan akhir dari cerita, melainkan bagian dari perjalanan yang masih terus dituliskan—satu doa, satu harapan, satu Natal yang syahdu, Natal di hatiku.

Komentar
Posting Komentar