Introvert: Kepribadian Bawaan atau Hasil dari Trauma?
Benarkah Aku ini Seorang Introvert?
Pertanyaan itu sering berputar di kepalaku.
“Apakah aku memang dilahirkan sebagai sosok yang cenderung tertutup dan pemalu? Atau… aku menjadi pendiam karena dunia terlalu berisik untuk dihadapi?”
Pertanyaan itu bukan soal mencari pengakuan. Sesekali bertanya pada diri sendiri adalah caraku mengenali siapa aku sebenarnya_caraku mengenal diri. Banyak orang mengira introvert itu antisosial, pemalu, suka menarik diri. Tetapi mereka jarang bertanya apa yang membuat seseorang memilih diam.
Apakah itu benar-benar pilihan… atau cara bertahan demi merasa aman? Bentuk perlindungan yang tumbuh dari pengalaman?
Lalu..., aku kembali mengingat-ingat lagi masa kecilku. Ada saat-saat di mana suara orang lain lebih keras daripada suaraku sendiri. Di mana menangis bukanlah pilihan, karena rumah selalu mengajar dan memaksaku untuk kuat, bukan untuk rapuh. Di mana kesalahan kecil dimarahi, dan keberhasilan atau pencapaian dianggap biasa. Di mana cinta hanya terasa ketika aku bisa memenuhi semua keinginan mereka.
Mungkin pada momen itulah aku belajar menjadi tenang, lebih memilih untuk diam & menepi.
Diam, menurutku terasa lebih aman daripada bicara tapi jarang di dengar, menyendiri terasa lebih menyenangkan ketimbang berada di keramaian tetapi membuatku merasa hampa.
Dan... jarang terlihat terasa lebih baik daripada menjadi sorotan tetapi sering disalahkan.
Saat aku tumbuh dewasa, orang-orang menyebutku pemalu dan susah berbaur. Jika saja mereka mau mendengar dan mengenalku lebih dalam, mereka akan tahu betapa berwarnanya duniaku, betapa renyah tawaku, betapa cerianya diriku sebenarnya.
Lalu, Apakah Kepribadian Introvert itu Bawaan atau Hasil dari Trauma?
Pertanyaan itu juga sering singgah di kepalaku. Namun, pada beberapa kasus aku yakin bahwa introvert adalah kepribadian bawaan.
Sejak kecil aku mudah terseret ke dalam pikiranku sendiri—bahkan untuk hal-hal kecil seperti:
- Jika baut ini ku lepas, apakah sepedaku masih bisa jalan?
- Jika seekor semut kuambil dari barisannya, apakah yang lain akan mencarinya?
- Jika aku membuang sampah sembarangan, apakah rumput dan tanah merasa ‘terluka’?
Hal-hal sepele itu mengisi hariku_menyita waktuku untuk berpikir & merenung.
Tak hanya itu, sewaktu kecil aku lebih banyak memilih diam di rumah atau duduk di meja belajarku. Gelak canda dan tawa riang anak-anak sebayaku tidak cukup menarik perhatianku dibanding dengan tumpukan buku-buku atau majalah di meja belajarku. Aku membaca untuk memuaskan rasa ingin tahu, menulis untuk mencurahkan isi hati, membuat karya kecil untuk mengalirkan imajinasi. Tak ada teman, tak ada gangguan. Hanya aku dan suara dalam diriku_aku tenggelam dalam dunia batinku. . .
Aku juga merasa seolah lahir dengan antena yang terlalu peka_sensitif terhadap hal-hal kecil, perasaan, perubahan suasana. Tatapan mata, gesture tubuh, senyum orang asing bisa membuatku gelisah. Ada kalanya air mataku jatuh tanpa alasan yang dapat kujelaskan.
Namun, aku juga tidak bisa menutup mata bahwa luka turut membentuk siapa diriku.
Trauma, kehilangan, kecewa… semuanya mengajarkanku menghemat energi—percaya seperlunya, bicara seperlunya, membuka hati hanya saat aman. Kepribadian bawaan dan pengalaman hidup berdansa bersama, menenun diriku seperti sekarang.
Dalam psikologi, introversi memang merupakan bagian dari kepribadian dasar—sesuatu yang mungkin sudah ada sejak lahir. Namun trauma masa kecil, rasa tidak aman, dan pola pengasuhan dapat memperdalam sifat itu, membentuk semacam tembok yang sulit diruntuhkan.
Kesimpulan
Jadi apakah aku introvert karena bawaan, atau karena trauma? Jawabannya bukan “bawaan atau trauma,” melainkan “keduanya.”
Aku bukan introvert karena rusak.
Bukan karena kurang pergaulan.
Bukan karena aneh.
Aku introvert karena begitulah caraku bertahan.
Begitulah caraku merasakan hidup tanpa topeng.
Ini diriku yang paling jujur.
Ada hari ketika aku ingin membuka diri.
Ada hari ketika aku menutup diri rapat-rapat.
Itu bukan kesalahan—itu bahasa jiwaku.
Jika seseorang bertanya, “Kenapa kamu sering menyendiri?” Jawabannya sederhana:
Aku paling menjadi diriku ketika aku kembali ke dalam.
Di sanalah aku aman.
Di sanalah aku tenang.
Di sanalah aku merasa utuh.
Jika seseorang membaca ini dan merasakan hal yang sama, ketahuilah: kamu tidak sendirian.
Diammu bukan kelemahan.
Diam-mu adalah cara lain untuk mencintai hidup.
Cara kita berbeda menghadapi dunia bukanlah penyakit.
Kita bukan makhluk yang salah.
Kita hanya memiliki cara yang berbeda untuk bernapas.
Dalam sunyi kita tumbuh.
Dalam sepi kita pulang.
Dan pada akhirnya, menjadi introvert bukan tentang menjauh dari dunia, melainkan memilih cara paling lembut untuk hidup di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar