Dunia Terbalik di Kepalaku: The Day Dreamer n Night Thinker Woman Story
Dunia Terbalik di Kepalaku
Siangku kurasa seperti malam dan malamku bagai siang
Dengkur lelap kalian di atas ranjang adalah lenguh nafasku terengah mengejar impian
Aku bermimpi di siang hari dan berpikir di malam hari
Duniaku tak pernah terlelap, tetapi bertabur mimpi dan imajinasi
Bait-bait sajak di atas aku tulis 3 tahun silam sebagai luahan kegelisahan atas sesuatu dalam diriku yang seringkali mengundang komentar "aneh" dari beberapa teman dan saudara-saudaraku.
Ya, entah sejak kapan, siang bagiku sering terasa seperti malam, dan malam bagai siang. Ketika orang-orang terlelap dalam nyamannya ranjang di kalam malam, aku justru terengah mengejar mimpi-mimpi yang tak pernah mau diam. Aku bermimpi di siang hari dan berpikir di malam hari. Mataku mungkin terpejam, tetapi isi kepalaku terus berjalan—terus berputar—seolah-olah dunia batinku memiliki jam dan orbitnya sendiri. Kadang aku tak mengenal siang, tidak pula akrab dengan malam. Namun anehnya, justru di sanalah aku menemukan surga kecilku, tempat imajinasi dan intuisi menari bebas tanpa batas.
Itu adalah sepotong dari kisahku—kisah seorang perempuan yang hidupnya tidak selalu mengikuti ritme dunia luar. Kisah seorang day dreamer n night thinker woman yang sering dianggap berbeda, sering disalahpahami, tapi tetap memilih merangkul dunia batinnya yang penuh cahaya dan gelap bercampur menjadi satu.
Apa Itu “Dunia Terbalik” Dalam Kehidupan Sehari-Hari?
Banyak orang menjalani hidup dengan ritme yang sama: bangun pagi ketika matahari muncul, bekerja saat siang, beristirahat di malam hari. Ritme itu diulang sejak manusia belajar menyatukan kehidupan dengan pergerakan matahari. Namun sebagian kecil dari kita—termasuk aku—hidup di luar pola tersebut.
“Dunia terbalik” bagiku bukan semata pola tidur kacau atau kebiasaan bergadang. Ini lebih dalam dari itu. Dunia terbalik adalah keadaan di mana jiwa memilih jamnya sendiri, terlepas dari suara dunia luar. Ada orang yang tubuhnya lelah di malam hari, tetapi pikiranku justru menyala terang seperti lampu-lampu kota yang tak pernah padam.
Di dunia terbalikku, ide-ide justru lahir ketika dunia senyap. Sementara ketika dunia ramai dan matahari sedang tinggi-tingginya, tubuhku ingin diam, ingin bersembunyi, ingin mencari ketenangan yang tak kutemukan di luar.
Dan ternyata, semakin aku mengenali diriku, semakin aku tahu bahwa dunia macam ini bukan aneh. Dunia macam ini adalah rumahku.
Day Dreamer dan Night Thinker: Karakter atau Kutukan?
Ada orang yang hidup di dunia logis, ada yang hidup di dunia visual, ada yang hidup di dunia sunyi. Aku hidup di antara semuanya. Pada siang hari, pikiranku berkabut oleh kantuk dan kelelahan. Namun justru di dalam kabut itulah imajinasi tumbuh. Aku bermimpi sambil terjaga.
Ketika malam tiba, sesuatu di dalam diriku bangkit. Kesadaran batinku lebih jernih, pikiranku lebih tajam, perasaanku lebih sensitif. Aku bisa duduk berjam-jam menulis, merenung, atau bahkan hanya memandangi langit, memikirkan hal-hal yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh orang lain.
Dulu aku mengira ini adalah kutukan—bahwa aku “tidak normal” atau “tidak bisa mengikuti dunia.” Tapi semakin dewasa, semakin aku paham bahwa pola pikir semacam ini adalah identitas. Dan identitas tidak perlu dimusuhi.
Identitas harus diterima.
Ketika Dunia Tidak Mengerti dan Aku Belajar Tak Lagi Memaksa
Sering kali aku ditertawakan.
Sering dianggap “kebanyakan melamun.”
Sering dianggap pemalas hanya karena tidur siang.
Sering dianggap tidak seimbang hanya karena aktif di malam hari.
Padahal, tidak ada yang salah dengan berpikir saat dunia diam. Tidak ada yang salah dengan menemukan ketenangan ketika bulan naik. Tidak ada yang salah dengan menjadi berbeda.
Aku lama menyalahkan diri. Bertahun-tahun. Sampai akhirnya aku berhenti bertanya, “Mengapa aku tidak seperti orang kebanyakan?” dan mulai bertanya, “Mengapa aku harus sama seperti mereka?”
Sejak itu, hidup terasa lebih lega.
Aku tidak meminta dunia memahaminya. Aku hanya belajar berdamai dengan caraku melihat dunia.
Dunia Batin yang Tak Pernah Tidur
Ada orang yang tertidur dan mimpinya berhenti di situ. Aku tidak begitu. Mimpi dan pikiranku berjalan berdampingan, tidak peduli aku tidur atau terjaga. Kadang tubuhku rebah, tetapi kepalaku tetap berlari.
Di dalam diriku ada lembar-lembar cerita yang belum tertulis. Ada kenangan yang belum selesai dijelaskan. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, namun tetap kupeluk pelan. Ada harapan yang tetap menyala meski dunia luar meredupkannya.
Aku tidak pernah benar-benar sendirian.
Aku ditemani diriku sendiri.
Dan jujur saja, itu bukan hal yang buruk sama sekali.
Imaginasi sebagai Ruang Aman: Mengapa Aku Butuhnya?
Bagi sebagian orang, imajinasi adalah pelarian. Bagi sebagian lainnya, imajinasi adalah bahan bakar. Bagiku, imajinasi adalah keduanya.
Saat aku lelah menghadapi dunia nyata, imajinasi membukakan pintu kecil. Pintu yang hanya bisa dibuka oleh seseorang yang sudah terlalu sering tersesat dalam pikirannya sendiri.
Aku masuk ke pintu itu bukan untuk kabur, tetapi untuk bernafas. Di dalamnya ada ruang luas tanpa batas, tempat aku bisa menjadi siapa saja. Bukan versi terbaikku, bukan versi terburukku—hanya diriku.
Imajinasi adalah rumah yang selalu menerima kepulanganku, bahkan ketika dunia nyata menutup pintu.
Mengapa Ritme Hidupku Terbalik? Sebuah Jawaban dari Sisi Ilmiah
Sebagai seseorang yang hidup “terbalik”, aku pernah mencari jawabannya dalam sains. Ternyata, apa yang kualami bukan hal aneh.
Beberapa penyebabnya bisa berupa:
• Kronotipe alami — jam biologis setiap orang berbeda. Ada morning person, ada night owl.
• Hipereaktivitas pikiran — orang yang punya imajinasi kuat cenderung aktif secara mental saat dunia tenang.
• Sensitivitas tinggi (HSP) — otak lebih sensitif, sehingga siang yang bising membuat energi cepat habis.
• Trauma atau pengalaman hidup — bisa mengubah ritme tidur tanpa disadari.
• Introversi — malam memberikan ruang sosial nol, yang membuat otak bisa berfungsi lebih optimal.
Sains membenarkan pengalamanku. Tradisi nenek moyang kita pun memahami bahwa manusia tidak selalu hidup di bawah ritme yang sama. Ada orang yang lebih terhubung dengan malam. Ada yang lebih selaras dengan cahaya.
Dan aku… tampaknya berada di antara keduanya.
Apakah Hidup di Dunia yang Terbalik Berbahaya?
Tidak selalu. Namun butuh keseimbangan.
Dunia terbalik bisa menjadi tempat yang indah, tetapi bisa pula menjadi labirin jika tidak dikelola. Aku belajar menjaga batas-batas kecil seperti:
• tetap tidur beberapa jam meski larut
• tetap membiarkan tubuh merasakan matahari
• tetap bersosialisasi meskipun sedikit
• tetap membuat rencana meski hidupku lebih spontan
Ritme batin mungkin terbalik, tapi hidup tetap membutuhkan pijakan.
Bagaimanapun, Dunia Ini Adalah Milikku
Setelah bertahun-tahun merasa “aneh”, akhirnya aku menemukan kesimpulan sederhana: hidupku memang tidak sama dengan orang lain, tetapi bukan berarti hidupku salah.
Duniaku mungkin tidak dimengerti.
Duniaku mungkin diolok-olok.
Duniaku mungkin dianggap tidak praktis.
Tapi duniaku membuatku bertahan.
Duniaku membuatku hidup.
Dan duniaku membuatku terus berjalan, meski kadang tertatih.
Pada akhirnya, hanya aku dan diriku yang perlu saling memahami. Dunia boleh tidak paham, tapi dunia tidak perlu disalahkan. Dunia hanya berjalan dengan ritmenya sendiri.
Aku pun begitu.
Dunia Terbalik Ini Adalah Rumah
Kini aku tidak lagi takut dengan dunia batinku yang terbalik. Aku tidak lagi ingin meluruskannya. Dunia ini mungkin tidak biasa, tapi di sinilah aku menemukan:
- kreativitas
- ketenangan
- intuisi
- keberanian
- identitasku yang paling jujur
Malam yang bagi orang lain adalah waktu istirahat, bagiku adalah waktu terjagaku.
Siang yang bagi orang lain adalah waktu bergerak, bagiku adalah waktu menyepi.
Dan di antara keduanya, aku menemukan diriku sendiri.
Inilah kisahku. Kisah seorang day dreamer n night thinker woman yang akhirnya berdamai dengan semesta kecil di dalam kepala.
_Yohana gunarti

Komentar
Posting Komentar